HotlineNewsNusantara.id
Anak Krakatau mungkin tampak seperti sebuah pulau kecil yang berdiri sendirian di tengah Selat Sunda. Puncaknya menjulang ratusan meter di atas permukaan laut, dikelilingi lereng hitam hasil aktivitas vulkanik.
Namun, apa yang terlihat oleh mata manusia sesungguhnya hanya sebagian kecil dari tubuh gunung api tersebut.
Di bawah permukaan laut, terdapat bagian lain dari Anak Krakatau yang jauh lebih besar. Gunung api ini tumbuh dari lingkungan kaldera Krakatau yang terbentuk setelah letusan dahsyat 1883. Dengan demikian, mengukur Anak Krakatau hanya berdasarkan ketinggian puncaknya dari permukaan laut tidak sepenuhnya menggambarkan ukuran tubuh gunung api yang sebenarnya.
Anak Krakatau merupakan gunung api yang tumbuh relatif cepat di dalam kaldera tersebut. Penelitian ilmiah mencatat gunung ini mulai muncul di atas permukaan laut pada sekitar 1927–1928, kemudian berkembang menjadi sebuah kerucut vulkanik yang sebelum keruntuhan 2018 mencapai sekitar 320–333 meter di atas permukaan laut.
Artinya, dalam waktu kurang dari satu abad, sebuah gunung api baru telah tumbuh dari lingkungan bawah laut menjadi sebuah pulau vulkanik.
Dan di situlah kisah Anak Krakatau menjadi jauh lebih menarik sekaligus penting untuk dipahami.
Bukan Sekadar Gunung Setinggi 300 Meter

Anggapan bahwa Anak Krakatau hanyalah gunung kecil setinggi sekitar 300 meter dapat menyesatkan apabila angka tersebut dipahami sebagai ukuran keseluruhan tubuh gunung.
Ketinggian yang biasa disebut adalah elevasi puncak terhadap permukaan laut, bukan tinggi gunung yang diukur dari dasar tubuh vulkaniknya.
Anak Krakatau berkembang di dalam kaldera Krakatau yang memiliki bagian laut dengan kedalaman sekitar 250 meter. Studi geologi menunjukkan bahwa gunung ini tumbuh di atas lingkungan kaldera tersebut dan secara bertahap membangun tubuhnya melalui akumulasi lava, material piroklastik, abu dan produk erupsi lainnya.
Karena itu, bila seseorang berdiri di pantai dan melihat puncak Anak Krakatau, yang terlihat hanyalah bagian yang muncul di atas laut. Sebagian struktur vulkaniknya berada di bawah permukaan air.
Dengan kata lain, Anak Krakatau adalah gunung api yang sebagian tubuhnya tersembunyi dari pandangan.
Namun perlu diluruskan: menyebut tinggi totalnya secara pasti sebagai “lebih dari 1 kilometer” membutuhkan definisi yang sangat spesifik mengenai titik dasar pengukuran. Data ilmiah lebih sering menggambarkan Anak Krakatau berdasarkan topografi, batimetri, volume bangunan vulkanik, dan kedalaman kaldera, bukan dengan satu angka sederhana “tinggi total 1 kilometer”.
Lahir dari Kehancuran Krakatau 1883
Untuk memahami Anak Krakatau, sejarahnya tidak bisa dipisahkan dari tragedi Krakatau pada 1883.
Letusan besar Krakatau pada Agustus 1883 menghancurkan sebagian besar bangunan gunung api dan membentuk kaldera besar di Selat Sunda.
Puluhan tahun kemudian, aktivitas vulkanik kembali membangun gunung baru di kawasan tersebut.
Gunung inilah yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau “anak” dari Krakatau.
Penelitian menyebut Anak Krakatau pertama kali menembus permukaan laut sekitar 1927–1928. Sejak saat itu, gunung tersebut terus tumbuh melalui berbagai fase erupsi.
Pertumbuhan tersebut tidak selalu berlangsung dengan cara yang sama. Ada masa ketika material vulkanik membentuk kerucut, ada pula ketika lava mengalir dan memperluas daratan.
Bahkan sebelum menjadi pulau yang relatif stabil, aktivitas vulkanik di kawasan tersebut mengalami proses muncul, terkikis dan berubah akibat interaksi antara material gunung api dengan laut.
Gunung yang Terus Membangun Dirinya Sendiri
Salah satu karakter paling menarik dari Anak Krakatau adalah kemampuannya membangun kembali tubuhnya dalam waktu relatif singkat.
Pada periode menjelang 2018, aktivitas vulkanik yang intens membuat tubuh gunung terus bertambah.
Studi ilmiah menunjukkan bahwa pada 2018 saja, aktivitas erupsi menghasilkan puluhan juta ton lava dan material erupsi yang menambah beban pada tubuh gunung, terutama di sektor barat daya.
Namun, pertumbuhan cepat juga dapat menjadi persoalan.
Sebuah gunung api kepulauan yang tumbuh di atas medan bawah laut yang curam dapat memiliki lereng yang tidak sepenuhnya stabil. Ketika material baru terus ditambahkan, geometri lereng berubah. Aktivitas magma, rekahan, deformasi dan proses hidrotermal juga dapat berperan terhadap kestabilan tubuh gunung.
Inilah yang kemudian menjadi sangat penting dalam memahami bencana Desember 2018.
22 Desember 2018: Ketika Sebagian Tubuh Gunung Runtuh ke Laut
Pada 22 Desember 2018, setelah berbulan-bulan mengalami aktivitas erupsi, sektor barat daya Anak Krakatau mengalami keruntuhan lateral atau sector/flank collapse.
Ini bukan sekadar guguran kecil.
Sebagian besar tubuh gunung bergerak menuju laut dalam sebuah peristiwa yang berlangsung sangat cepat.
Penelitian berbasis data satelit, foto udara dan survei dasar laut memperkirakan volume longsoran sekitar 0,214 ± 0,036 kilometer kubik, atau sekitar 214 juta meter kubik sebagai volume endapan longsoran bawah laut yang terukur. Sekitar 45% volume tersebut diperkirakan berasal dari bagian bangunan gunung di atas permukaan laut, sedangkan sekitar 55% berasal dari bagian lereng bawah laut.
Inilah salah satu fakta paling penting yang sering terlewat:
Yang runtuh bukan hanya bagian gunung yang terlihat manusia. Bagian bawah lautnya juga ikut terlibat.
Penelitian tersebut memperkirakan bidang keruntuhan memotong lereng bawah laut pada kedalaman sekitar 100–120 meter di bawah permukaan laut.
Jadi, bencana 2018 tidak bisa dipahami hanya sebagai “puncak Anak Krakatau longsor”.
Yang terjadi adalah keruntuhan sebagian sektor tubuh gunung, termasuk komponen bawah lautnya.
Tsunami Datang Tanpa Didahului Gempa Besar
Inilah aspek yang membuat peristiwa 2018 begitu mematikan.
Ketika material gunung dalam jumlah sangat besar tiba-tiba masuk ke laut, massa tersebut memindahkan air laut dan membangkitkan gelombang tsunami.
Studi pemodelan memperkirakan sumber longsoran berada pada kisaran 0,22–0,30 km³, sementara penelitian dengan survei dasar laut kemudian memberikan estimasi yang lebih terukur sekitar 0,214 ± 0,036 km³.